Salah satu dilema terbesar yang dihadapi orang tua di Asia modern adalah sejauh mana mereka harus memprioritaskan Bahasa Inggris dibandingkan Bahasa Lokal (Ibu) dalam pendidikan anak mereka. Di satu sisi, Bahasa Inggris dianggap sebagai kunci universal untuk mengakses peluang karier global, pendidikan tinggi, dan literatur internasional. Orang tua sering menginvestasikan sumber daya besar untuk memastikan kefasihan anak mereka sejak usia dini.
Namun, di sisi lain, penekanan yang terlalu besar pada Bahasa Inggris dapat mengorbankan identitas budaya dan koneksi keluarga. Bahasa lokal adalah wadah bagi nilai-nilai tradisional, sejarah, dan kemampuan untuk berkomunikasi secara mendalam dengan generasi yang lebih tua. Kehilangan kefasihan dalam bahasa ibu dapat menciptakan jurang komunikasi dan pemahaman antar-generasi di dalam keluarga.
Isu ini juga terkait erat dengan gaya hidup urban dan globalisasi. Di kota-kota besar Asia yang didominasi oleh perusahaan multinasional, lingkungan sosial secara alami lebih condong ke Bahasa Inggris. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan ini mungkin secara pasif mengadopsi Bahasa Inggris sebagai bahasa dominan mereka, sehingga membutuhkan upaya sadar dari orang tua untuk mempertahankan dan mempraktikkan bahasa lokal di rumah.
Beberapa solusi gaya hidup yang muncul adalah pendekatan bilingualisme seimbang. Keluarga berupaya menerapkan sistem di mana satu bahasa digunakan secara konsisten oleh satu orang tua atau di lingkungan tertentu (misalnya, Bahasa Lokal hanya digunakan di rumah kakek-nenek). Tujuannya adalah memastikan anak dapat menjadi mahir di kedua bahasa, mendapatkan manfaat global tanpa kehilangan akar budaya mereka.
Pada intinya, dilema bahasa ini mencerminkan tarik ulur antara aspirasi global dan akar lokal dalam gaya hidup Asia. Keputusan yang diambil oleh setiap keluarga akan menentukan tidak hanya prospek karier anak, tetapi juga cara mereka memahami dan berinteraksi dengan warisan budaya mereka sendiri dalam dunia yang semakin terglobalisasi.
