Masa depan mobilitas perkotaan di Asia berpotensi didominasi oleh drone taxi dan solusi Urban Air Mobility (UAM). Kota-kota besar Asia yang padat, seperti Seoul, Tokyo, dan Jakarta, melihat UAM sebagai solusi inovatif untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang kronis dan mengurangi waktu perjalanan yang terbuang.
Beberapa negara, terutama Korea Selatan dan Jepang, berada di garis depan dalam pengembangan UAM, dengan uji coba kendaraan listrik lepas landas dan mendarat vertikal (eVTOL) yang semakin sering dilakukan. Pemerintah berinvestasi pada infrastruktur vertiport (tempat lepas landas/mendarat) dan kerangka regulasi untuk mengintegrasikan layanan ini dengan ruang udara perkotaan yang ada.
Meskipun potensi UAM untuk mengubah komuter sangat besar, tantangan teknis dan regulasi masih menghambat implementasi skala penuh. Isu keamanan publik, polusi suara, dan biaya operasional yang tinggi masih perlu diatasi sebelum drone taxi menjadi moda transportasi yang terjangkau bagi masyarakat umum.
Keberhasilan UAM di Asia akan bergantung pada kemitraan antara pengembang teknologi, regulator, dan otoritas transportasi kota. Jika berhasil, Asia dapat menjadi benchmark global untuk transportasi udara perkotaan yang cerdas dan efisien.
Asia melihat drone taxi dan Urban Air Mobility (UAM) sebagai solusi untuk kemacetan, dengan Korea Selatan dan Jepang memimpin uji coba eVTOL dan investasi vertiport, meskipun tantangan keamanan, suara, dan biaya operasional masih menghambat.

