Implementasi Teknologi Smart City menjanjikan solusi untuk mengatasi masalah kronis di kota-kota padat seperti Jakarta dan Manila, mulai dari kemacetan lalu lintas, banjir, hingga inefisiensi pelayanan publik. Namun, kedua ibu kota ini menghadapi tantangan besar yang unik dalam mewujudkan visi kota cerdas tersebut.
Tantangan utama adalah kompleksitas infrastruktur legacy (lama) dan kesenjangan digital yang lebar. Kedua kota memiliki infrastruktur yang sudah tua, dan mengintegrasikan sensor IoT serta jaringan konektivitas ke dalamnya membutuhkan investasi modal yang sangat besar dan proses konstruksi yang mengganggu.
Selain infrastruktur, Tata Kelola Data dan Keterbatasan Anggaran menjadi penghalang krusial. Untuk Smart City berfungsi, diperlukan pengumpulan, analisis, dan berbagi data yang masif dan real-time, yang menuntut kerangka hukum yang kuat mengenai privasi dan keamanan data konsumen. Keterbatasan anggaran juga memaksa implementasi dilakukan secara bertahap dan terfragmentasi.
Masa depan Smart City di Jakarta dan Manila bergantung pada kemitraan publik-swasta yang kuat, yang mendanai proyek-proyek percontohan quick-win (solusi cepat) di area-area spesifik, seperti manajemen lalu lintas cerdas atau sistem peringatan banjir berbasis IoT, sebelum meluas ke seluruh kota.

